Home | Cerita Makan | Arsip Artikel
 
Paling Seibu
Cerita Makan | Posted Jun 08, 2007 10:51 AM Arletta Danisworo

Total Rating page ini : 0/5 Stars
  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

 

Pada pertengahan Mei lalu, Indonesia dihebohkan oleh berita gelombang pasang yang menghebohkan. Gelombang yang cukup dahsyat ini menghantam 11 propinsi. Menurut berita di berbagai media, gelombang pasang ini mengakibatkan rumah-rumah rusak, bahkan nyawa melayang. Walaupun korban jiwa yang dilaporkan tidak banyak, kejadian ini membuat warga yang daerahnya terkena gelombang pasang panik. Banyak diantara mereka yang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain menimbulkan kepanikan bagi warga setempat, kekhawatiran juga menimpa warga yang daerahnya aman-aman saja. Terutama mereka yang sudah berencana berlibur panjang ke pantai. Termasuk di antaranya saya. Kebetulan waktu itu long weekend, dan saya sudah memesan tempat di Pulau Umang, pulau kecil di propinsi Banten. Menurut berita di media, Banten termasuk salah satu dari 11 propinsi itu. Jadi ya, bagaimana saya nggak khawatir? Setiap hari sebelum keberangkatan, Pulau Umang saya hubungi untuk menanyakan keadaan di sana. Setiap kali telepon jawaban yang diterima selalu sama, “Baik, kok bu sangat tenang airnya. Nggak ada apa-apa. Aman-aman saja”. Setelah mendapatkan kepastian langsung dari sana, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk berangkat.

Perjalanan menuju Pulau Umang, sangatlah lama. Empat jam! Anak saya yang umurnya enam tahun aja sempat berkomentar, “Empat jam juga udah bisa nyampe Hong Kong. Mending ke Hongkong Disney aja”. Sialan! Kecil-kecil sudah bisa membandingkan. Apalagi pada saat berangkat,  jalan melalui Pandeglang nggak boleh dilewati karena sedang ada pesta rakyat. Jadi terpaksalah menyusuri pantai, yang berarti harus melalui Anyer dan itu lebih lama lagi. Pada saat menyusuri pantai itulah saya melihat hasil ulah si gelombang pasang itu. Ada sebagian tembok dan jalan yang hancur. Kolam renang sebuah hotel yang sempat saya singgahi juga penuh dengan pasir, dan beberapa tempat masih tergenang air. Tidak saya lihat ombak ganas yang tingginya bermeter-meter, seperti yang saya bayangkan. Hanya air tenang, tapi dalam keadaan naik atau pasang. Setelah Labuan, perjalanan menuju Pulau Umang sudah tidak berada di coastline, melainkan melalui jalan yang rasanya….ampun deh! Seperti naik roller coaster di Six Flags. Naik turun, penuh tikungan tajam, menggelitik perut atau bagi yang tidak tahan justrun membuat mual dan ingin muntah. Satu hal yang pasti, jangan sambil baca/kirim sms. Pusing!!! Bisa dibilang inilah bagian perjalanan yang paling menyebalkan. Beberapa kali sepanjang perjalanan, terpampang papan Pulau Umang Resort yang menyebutkan waktu tersisa untuk mencapai tujuan. Pada papan pertama disebutkan “Pulau Umang Resort 60 menit”, lalu berkurang beberapa menit sampai terakhir disebutkan “Pulau Umang Resort 5 menit”. Wah senang banget, rasanya setelah melihat papan terakhir. Karena walau lamanya satu jam, tapi rasanya….alamak, lebih dari itu! Sementara perjalanan menyebrangi pulau, wah sebentar sekali. Antara 5-10 menit. Tapi kondisi air dan pasir di Pulau Umang, sangatlah jauh dengan keadaan di pulau Jawa (baca : titik penyebrangan). Pulau Umang jauh lebih bersih! Pasirnya putih dan lautnya berwarna biru kehijauan. Aah….seperti yang terlihat di iklan-iklan tour and travel.

Setelah check-in, saya dan sekeluarga memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak jauh dari meja saya, ada satu keluarga yang sedang makan siang juga. Tiba-tiba si ayah dari meja sebelah bertanya, “Bu, temennya Pak Bondan ya?” Agak bingung saya dengan pertanyaannya, tapi pada akhirnya saya mengerti arah pertanyaan dan menjawab ragu “E.e.e……iya” lalu suami saya menambahkan sambil ketawa “Iya, pak istri saya sempet waktu itu gantiin Pak Bondan, tapi udah nggak lagi kok”. Si ayah tadi melanjutkan, “Saya sama istri saya sempat debat, iya atau bukan. Istri saya mau tanya langsung, tapi malu. Terus istri saya bilang, tuh kan bener. Kunyahnya khas soalnya” “Apa pak.” tanya saya“Iya dari kunyahnya istri saya tahu kalau itu mbak yang di TV”. Huahahaha…….saya dan suami ketawa mendengar itu. Lalu sambil berbisik dan menatap suami saya bilang, “Edan! Sabulan di TV meuni sampai diperhatiin kunyahnya. Gua aja nggak tahu, kunyahan gua kaya apa!” Walau terheran-heran, GR juga sih saya sampai diperhatikan sampai sedemikian. Lain halnya yang terjadi dalam perjalanan pulang ke Jakarta, saya merasa sangat tidak ‘diperhatikan’ dari segi penampilan.

Sewaktu di Labuan saya  mampir ke Rumah Makan Bu Entin yang sangat terkenal dengan otak-otak dan hidangan lautnya itu. Untuk ukuran harga Rp. 1.500/buah, otak-otak Bu Entin tergolong besar dan padat. Citarasa ikannya juga sangat terasa. Udang, ikan, cumi semuanya di sate, dan ukurannya? Besar-besar! Setelah, selesai makan dan hendak membayar, wanita yang dikasir berkomentar “Anaknya umur berapa?” sambil melihat anak saya yang paling kecil. “3, 5 tahun”  “Gede banget! Sama kaya cucunya Bu Entin juga segitu umurnya!” Untuk anak hampir 4 tahun, anak saya memang tergolong besar untuk seusianya. Lalu ibu itu melanjutkan “ Minum susunya banyak ya?” “Iya”  Dan lagi-lagi si ibu menjawab“Sama, cucunya Bu Entin juga gitu”. Setelah itu saya yang gantian nanya, “Udah berapa lama rumah makan ini?” “Hhmmm….lama, kira-kira 15 tahunlah’ Lama juga ya, kata saya dalam hati. Dengan tahunya usia rumah makan, ditambah informasi Bu Entin sudah punya cucu, dugaan saya Bu Entin adalah seorang  wanita yang sudah memasuki usia senja. Oleh karenanya saya lanjut bertanya, “Emang Bu Entin itu, berapa sih umurnya? 70?”. Ibu itu menjawab sambil tersenyum lebar, “Nggak, ih nggak! Ibu entin mah masih muda!” Semuda-mudanya paling hampir 50 tahun, pikir saya. Lalu ibu itu melanjutkan, “Paling juga seibu!” Mendengar kata-kata itu, suami saya yang berada di belakang saya, langsung keselek. Setelah sama-sama tertegun, saya dan suami ketawa, diikuti protes saya terhadap si ibu, “Aduuh…Ibu. Saya mah masih muda. Nggak mungkinlah seumuran saya (sekedar info umur saya 33 tahun) atuh. Kira-kira atuh. Ibu mah ngaco!!” Si ibu cuma tertawa aja, dan walaupun saya juga tertawa, hati kecil saya berkata “Sialan!Emang gua keliatan tua?!?!” Seandainya cupid sedang memanah saat itu, panahnya pas sekali kena hati saya. Nyess!!! Tepat sasaran!


 
 
 
 
 
Login Member Area
Username
Password
 
     
 
  • Makanan Aneh di Berbagai Negara*
    o  Aborigin : Orang-orang Aborigin senang masak sejenis kadal dengan cara dipanggang, abis itu langsung dimakan

  • Ibu Piscok
    Bagi pendengar Prambors di tahun 80-an, pasti mengenal nama Hanny Soemadipradja. Suara khasnya agak berat dan bindeng.

  • Maaf, Take Away Habis
    Setelah lulus kuliah di tahun 1998, saya ke Bali. Niat sebenarnya sih, untuk main dan ingin pergi jauh dari keluarga. He,he

  • Istana Raja Kobra
    Mendengar nama ular saja kami sudah bergidik. Langsung dong kebayang rupa ular yang  ‘menyebalkan’. Kulitnya

Untitled Document
Recent Forum
Por scientie, musica, sport etc
Europa usa li sam vocabularium
Top Review Article
Warung Pasta: Pasta All Nite Long
Spizza : Neverending Promo
Dapur Buntut : Berani Tampil Beda
Warung Dyta : Beli Sambal Gratis Ayam
Tentang Kami
  Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya
Send Story
Contact Us
  © 2007 Temanmakan.com

      Home   |   Topik Makan  |   Cerita Makan   |   Ulas Makan   |  Berita Makan   |   Bisnis makan   |   Makan Sehat   |   Makan Unik   |   Tempat Makan   |    Forum   |