Home | Cerita Makan | Arsip Artikel
 
Ibu Piscok
Cerita Makan | Posted May 23, 2007 11:33 AM Arletta Danisworo

Total Rating page ini : 0/5 Stars
  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

 

Bagi pendengar Prambors di tahun 80-an, pasti mengenal nama Hanny Soemadipradja. Suara khasnya agak berat dan bindeng. Terdengar ramah dan menyenangkan. Apa yang terdengar di udara tidaklah beda dengan aslinya. Orang akan betah mengobrol berjam-jam dengannya mendengarkan celotehannya dengan gaya khasnya yang seru. Seperti waktu itu di Plaza Senayan, sambil menikmati es krim Haagen Daaz. Saya dan Mbak Hanny mengobrol banyak hal, termasuk kisah petualangan masaknya di New Zealand.

Pada tahun 2004, Hanny beserta seluruh keluarga pindah ke New Zealand dengan tujuan mengambil PR. Setelah sekian lama menjadi wanita karir yang sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah, Hanny terpaksa  menjadi seorang ibu rumah tangga sungguhan. “Aduh rasanya terhina sekali. Biasa dari meeting ke meeting, sampai rumah udah tahu beres. Sekarang harus ngegosrek kamar mandi, masak, nyuci. Masak gua cuma ngurusin gini doang?!?!Tiga bulan pertama ampuun!!! Pengen cerai rasanya. Baru aja selesai cuci tangan habis semua kerjaan beres. Anak-anak udah nanya, bu untuk lunch apa bu? Aarrgghhh…….!!!!”

Yah begitulah tugas seorang ibu. The work is never done and you can never quit. Apalagi di negeri orang. Nggak ada pembantu, jadi ya….mau nggak mau semuanya harus dikerjakan sendiri. Satu setengah bulan pertama di New Zealand adalah masa orientasi. Masa di mana harus mengurus segala sesuatu dan menyesuaikan dengan lingkungan baru. Selama satu setengah bulan ini pula, Hanny dan keluarga menumpang di rumah Mbak Elly. Karena namanya menumpang, Hanny tahu dirilah. Nggak mungkin segala sesuatunya dilayani oleh tuan rumah. Termasuk urusan masak memasak. Berbekal pengetahuan dan pengalaman masak yang sama sekali tidak ada, dimulailah petualangan masak Hanny di rumah Mbak Elly. Hebohlah pokoknya! Pertama kali masak telur ceplok gosong.Buat nasi goreng benyek karena minyaknya kebanyakan. Wajan rusak dan yang paling parah blender rusak.

Jadi pada suatu hari, Hanny berinisiatif membuat perkedel jagung. Karena pernah melihat Mbak Elly membuat perkedel, dengan pedenya Hanny melakukannya sendiri tanpa tanya-tanya. Setelah jagung pipilan beku dikeluarkan dari freezer, langsung dimasukkan ke dalam blender. Klontang, klonteng kurang lebih seperti itu suaranya, kemudian blender mengeluarkan asap. Dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi ledakan. Kontan Mbak Elly lari ke dapur, dan melihat blendernya sudah rusak. “Euleuh kunaon Hanny?” “Aduuh mba, punten ngerusak blender. Saya mau blender jagung seperti Mbak Elly waktu itu., saya keluarin dari freezer terus saya masukin” “Iya, tapi nggak langsung dari freezer atuh Hanny. Keras keneh” “Oooh……..iya ya!”

Ada kebiasaan di New Zealand, di mana kalau kita diundang makan ke rumah oleh sesorang, undangan membawa sesuatu buatan sendiri. Berhubung Hanny masih nebeng dan orang-orang tahu Hanny nggak bisa masak, orang-orang maklum. Begitu sudah punya tempat sendiri baru deh pusing. Mau  beli juga mahal, akhirnya Hanny membuat sesuatu. Yang terpikir olehnya adalah pisang coklat (piscok) seperti di sekolahannya dulu. Setelah mendapat kiriman resep via SMS dari Novi di Indonesia, mulailah Hanny praktek. Pertama-tama pisang dipotong-potong, diletakkan di atas kulit lumpia, ditaburi kayumanis dan serutan gula merah, lalu goreng. Setelah 5 buah, mulai deh merasa ribet dengan gula merah. Karena keras dan cepat meleleh. Akhirnya diganti dengan brown sugar. Setelah selesai beberapa buah, dibawalah ke pesta. Wah, begitu datang teman-teman spontan bertanya-tanya “Hanny bawa apa?” dengan nada agak mengejek. “Nggak tahu deh, nih“ kata Hanny sambil meletakkan piscok di atas meja. Eh, tahunya langsung ludes, des, habis semua dalam sekejap.  “Wah Hanny enak!” komentar semua orang.

Nah sejak itu setiap ke pesta Hanny selalu membawa piscok dan mendapat julukan Ibu Piscok. Mau bawa  50 buah atau 100 buahpun selalu habis dalam sekian menit. Sampai-sampai ada yang menawarkan sebuah proposal bisnis. Hanny diminta untuk menyuplai 200 piscok/hari. Piscok ini nantinya akan dititipkan di café-café  seharga $1. Dengan sistem konsinyasi ini,  80% untuk hanny dan 20% untuk cafe. Suami sangat mendukung! Karena setelah dihitung-hitung keuntungannya sangat menggiurkan. Dalam satu hari bisa mendapat  $160. Dikalikan 20 hari dalam sebulan, sudah mendapatkan $3,200 per bulan. Jumlah yang sangat cukup untuk kebutuhan sebulan. Namun Hanny menolaknya dengan alasan : 1) baru belajar masak jadi belum cinta masak  2) Nggak mau bau pisang setiap hari, jadi nggak gaul  3) Nggak ada quality control. Karena dari 100 piscok yang dibuat pasti ada yang gagal. Pisangnya suka nongol-nongol keluarlah atau  kadang gosonglah, jadi jualan piscok nggak jadi.

Sampai hari ini, teman-teman di New Zealand masih suka kangen dengan Piscok Hanny. Walau gampang tetap saja katanya rasanya lain. Semua teman-teman Hanny berkomentar,   Hanny nggak bisa masak,  tapi kita nggak bisa masak seperti Hanny. Nah bingung kan? Walau nggak ahli masak, resep mudah, grill and bake Hanny jagonya. Sang ibupun sempat meneteskan air mata terharu begitu berkunjung ke New Zealand dan mencoba masakan Hanny, “Aduh, Hanny ini pertama kali mama liat kamu masak. Meuni raos” . Anak-anak dan suamipun berkomentar “Waduuh ibu hebat. Untung kita ke New Zealand”  Sesampainya di Indonesia, Hanny tidak pernah lagi memasak. Kembali lagi ke wanita karir dan urusan rumah diserahkan ke pembantu. Walau begitu suami dan anak-anak, tetap lebih menyukai masakan ibu. Yah, walau ala kadarnya dan rasanya tidak seperti buatan seorang ahli masak, masakan Ibu akan selalu paling enak. Ada cinta sih di dalamnya!


 
 
 
 
 
Login Member Area
Username
Password
 
     
 
  • Paling Seibu
    Pada pertengahan Mei lalu, Indonesia dihebohkan oleh berita gelombang pasang yang menghebohkan. Gelombang yang cukup dahsyat

  • Makanan Aneh di Berbagai Negara*
    o  Aborigin : Orang-orang Aborigin senang masak sejenis kadal dengan cara dipanggang, abis itu langsung dimakan

  • Maaf, Take Away Habis
    Setelah lulus kuliah di tahun 1998, saya ke Bali. Niat sebenarnya sih, untuk main dan ingin pergi jauh dari keluarga. He,he

  • Istana Raja Kobra
    Mendengar nama ular saja kami sudah bergidik. Langsung dong kebayang rupa ular yang  ‘menyebalkan’. Kulitnya

Untitled Document
Recent Forum
Por scientie, musica, sport etc
Europa usa li sam vocabularium
Top Review Article
Warung Pasta: Pasta All Nite Long
Spizza : Neverending Promo
Dapur Buntut : Berani Tampil Beda
Warung Dyta : Beli Sambal Gratis Ayam
Tentang Kami
  Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya
Send Story
Contact Us
  © 2007 Temanmakan.com

      Home   |   Topik Makan  |   Cerita Makan   |   Ulas Makan   |  Berita Makan   |   Bisnis makan   |   Makan Sehat   |   Makan Unik   |   Tempat Makan   |    Forum   |